Unila Raih Delapan Rekor Muri

BANDARLAMPUNG – Universitas Lampung (Unila) mendapatkan Rekor Muri yang kedelapan kali atas Webinar dengan peserta Rektor dan Wakil Rektor terbanyak. Webinar nasional bertema “Strategi Meningkatkan Jumlah Guru Besar dan Mempercepat Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen”, Selasa (5/4/22).

Ketua Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa & Rektor Universitas Lampung, Peraih Rekor Muri Pengukuhan Profesional Terbanyak Prof. Dr. Aom Karomani, M,si. mengatakan, Unila sudah mendapatkan kedelapan kali Rekor Muri, mudah – mudahan nanti kalau bisa sampai sepuluh Rekor Muri ketika saya habis masa jabatan sebagai rektor. Jadi kita masih ada dua cadangan untuk dicatatkan di Rekor Muri.

“Kita sudah memproses 40 Guru Besar dan saya ingin Unila memiliki lebih dari 100 Guru Besar, kita membuat tim percepatan, memberi insentif, dan mendampingi itu semua kita lakukan agar kita bisa membantu dosen – dosen menjadi Guru Besar,” kata Prof Aom Karomani, di ruang sidang utama lantai 2 Rektorat Unila.

Prof Aom Karomani menambahkan, kalau kata salah satu Dosen Undip, Lebih gampang masuk surga ketimbang menjadi Guru Besar. “Sangking sulitnya menjadi Guru Besar, tetapi Unila bisa melakukan percepatan itu,” kata dia.

Sulitnya mencapai Guru Besar, lanjut Prof. Aom Karomani, disebabkan rumitnya persyaratan, lama proses, dan perubahan regulasi.

Soal strategi menambah guru besar, Prof Aom Karomani menuturkan, ada beberapa langkah yang dilakukan Unila. Pertama, manajemen kepemimpinan dan pemberdayaan dosen.

“Saya punya diksi, istilah jembar. Kalau manajemen kepemimpinannya tidak jembar akan sulit kita ingin mempercepat Guru Besar,” kata dia.

Aom menjelaskan makna diksi jembar yang dimaksud yaitu selesai dengan diri sendiri.

“Rektor bukan sekadar jabatan akademik, tapi politis. Pemilihan rektor pasti ramai di semua universitas terutama PTN. Kalau tidak jembar ketika menjadi rektor, dia (dosen) bukan pendukung kita, habis dia itu,” ujar dia.

Jadi rahasia Unila, lanjut Aom, dosen-dosen cepat menjadi guru besar karena semua pimpinan memegang prinsip jembar.

Strategi kedua, yakni membuat tim percepatan guru besar dan melakukan pendampingan.

Ketiga, membuat peraturan rektor untuk memberi insentif bagi dosen.

Keempat, memberi dana penelitian yang cukup untuk para dosen.

Ia menyarankan, dana penelitian yang ideal adalah 10 persen dari PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).

“Mudah-mudahan PNBP Unila tahun 2022 bisa Rp400 miliar. Maka saya janji untuk penelitian dosen kita anggarkan Rp40 miliar,” ucap dia.

Terakhir, membuat sistem kenaikan pangkat lebih transparan dan akuntabel.

Sementara, anggota Komisi X DPR RI, Prof Djohar Arifin Husin, yang juga Koordinator Kopertis Wilayah I (2000-2003) optimistis bisa mendorong percepatan jumlah guru besar di Indonesia.

Yakni, memberi kewenangan atau otonomi lebih besar kepada kampus dengan semangat kampus merdeka.

“Tidak perlu ada lagi tim di kementerian, karena kampus lah yang paling tahu kualitas dosen yang ada di lingkungan perguruan tinggi masing-masing,” tandasnya. (*)

Editor: Rudi